Rabu, 26 Oktober 2016

Tangan-tangan Kuasa



Tangan-tangan Kuasa
Oleh: Addy Hasan

Ada Tangan-tangan kuasa di Kota ini Kawan
Tangan-tangan besar itu tak terlihat
Hanya asap terlihat memenuhi udara sosial kita
Apinya ada nun jauh di sana

                Dengan licik tangan-tangan kuasa mainkan bidak
                Letupan relijius dipantikkan seakan membuat bara
                Kaum garis keras maju menghadang teriakkan kalimat suci
                Bergerak penuh amarah, diiringi tepukan Tangan-tangan kuasa

Itulah politik kawan, kau hanya bidak
Bukan, bukan apa yang kau lihat di permukaan, itu fatamorgana
Di belakang layar sana, Tangan-tangan Kuasa itu bermain
Agar sang Calon seakan tertindas, bisa menang mudah

                Elit politik dan relijius saling mengintip
                Adakah peluang jadi bagian dari pemenang Pesta
                Kau hanyalah bidak kawan, tak lebih
    Jangan terbawa romantisme ribuan tahun lalu,

Tangan-tangan kuasa itu begitu kuat kawan
Ada, tapi kau tak kuasa melihatnya
Renungkan dan lihat dengan hati
Bukan dengan gemerincing koin demi Pesta

Jakarta, 26 Oktober 2016


               

               


               
               
               

Selasa, 25 Oktober 2016

Darwinisme

Darwinisme
Oleh: Addy Hasan

Tahukah engkau suku Aborigin kawanku
Merekalah pemilik benua sebelah negara kita, dulu
Tak berbaju dan primitif gaya hidupnya, katanya
Berladang dan berburu untuk hidup bukan gaya hidup


Gerombolan tahanan datang dengan ekspedisinya
Tertawa pandangi sang Aborigin lugu
Bercengkrama layaknya kawan seraya patok tanah
Ajari hidup Aborigin agar lebih maju untuk siasat

Tak lama serdadu berlabuh dengan larasnya
Bawa amunisi dan mesiu perangi suku
Tindas yang tak mau tunduk, libas tuntas
Evolusi Darwinisme terwujud, Aborigin kelam sejarahnya kini

Pluit dan Pasar Ikan adalah ruang sosial, dulu
Pedagang kecil, nelayan, guru dan anak-anak saling bersapa
Calon penguasa membawa bingkisan untuk bersiasat
Blusukan sambil meninggalkan sepatu laras aparat

Bagai pesulap berubahlah puing jadi taman
Rawa jadi hunian baru mewah nan congkak
Bukan pemilik lama kawanku tapi baru nan elit
Kaum nestapa minggir berjubel kandang bagai burung

Pantainya Jakarta indah katanya, untuk kapuk orang elit
Air melimpah jika hujan karena memang rawa, dulunya
Tapi dengan rupiah semua bisa disulap
Akankah Darwinisme terus berlanjut kawanku……

 Jakarta, 25 Oktober 2016

Centeng

Centeng
Addy Hasan

Centeng Belanda petantang petenteng dengan pongahnya, dulu
Berkeliaran bak nasionalis menusuk dari belakang
Pundi-pundi Centeng penuh dengan Gulden, dulu
Tertawa atas penjajahan kaumnya sendiri


Centeng berdasi sepatu mengkilap, kini
Layar kaca mewarnai wajah-wajah badaknya
Tak perlu pundi karena kartu elektronik, kini
Dengan caci makinya Centeng menunjuk wong cilik

Tak peduli aturan karena cukup diskresi tuan, pongahnya
Sang Centeng berakrobat alasan putar balik fakta
Tak perlu Nurani karena pragmatisme akut, kantongnya
Matematika logika hidupnya, untung rugi

Centeng beraksi berdiri di atas puing
Rela gusur bangsa dari mata pencahariannya, mati
Biarlah jelata digusur asal proyek bagi Centeng
Centeng centeng tak punya hati

Jakarta, 26 Oktober 2016

Sinking the Poor



Sinking the Poor
Addy Hasan


Jakarta was the city of every citizen
Where the poor and the rich used to meet
Jakarta was the city of millions hope
When the struggle and dreams came

But, Jakarta today is not used to be 
Sinking the dreams and hope of poor
Jakarta is for the have
Left behind tears and cries of mother and children

The poor was evicted from their homeland
Leaving their dreams and hope
The rich were risen to the skyscraper
Getting their wealthy and success


 Thousand houses of fishermen were destroyed
Near luxury apartments and gallant malls
All is evicted, until it is destroyed.
Now Jakarta only for conglomerates
In the name of development said the leader


Ciliwung riverbank, Luar Batang, Rawajati all is evicted
Left debris and hurts
But not Mangga Besar the buildings of Conglomerates
Thousand houses and giant buildings stand still

The poor living in hired narrow flat
Let them live like a bird in a cage
Make them to rent the flat to the rest of life
It is the place for the poor

Coast Jakarta is for cartel not fishermen
Made children miss school, fathers were forced to idle
And again it is for modernization
And the leader said again “It’s for better Jakarta”

Sinking the poor…

Jakarta, 17 October 2016



Minggu, 23 Oktober 2016

Muak

Muak
Oleh: Addy Hasan

Rakyat muak dengan colotehanmu wahai penguasa
Katamu ini Pesta Rakyat
Bukan itu pestamu bukan pestaku
Kami hanya tamu makan sekedarnya


Hidanganmu khusus
Ada pagar dan penjaganya
Kau cengkrama dan tertawa terbahak-bahak
Melihat jelata akrobat berebut makanan sisa

Jas dan sepatumu menyilaukan panggung
Cerutu di tangan kananmu
Miras di tangan kirimu
Tapi di mulutmu keluar janji-janji suci

Celotehmu bau alkohol memabukkan jelata
Musik sihirmu memukau proletariat
Recehanmu bergemerincing menghujani kantong
Janjimu semanis madu meracuni pikiran

Rayuanmu begitu memukau suara kami
Hanya untuk lima tahun sekali kita bertemu
Esok, lusa kau enyahkan kami dari gubuk
Suatu saat Karmamu pasti akan datang

Jakarta, 23 Oktober 2016

Nestapa Jelata

Nestapa Jelata
oleh: Addy Hasan

Hidup kami semu tak bermakna
Dicengkeram dalam pragmatisme
Dijerat kehidupan duniawi
Tak ada lagi nilai hakiki


Saling gesek dan gosok
Saling Curiga Mencurigai
Tak ada lagi kepercayaan
Yang ada hanya Nestapa

Masa depan kami suram gelap gulita
Belum nampak cahaya dan secercah harapan
Asa hanya bagi cukong dan pemodal asing
Rakyat tak bisa memilih harus tunduk dengan Penguasa

Demi pembangunan semua rata dengan tanah
Tak ada lagi iba apalagi simpatik
Demi modernisasi semua digilas dengan mesin aparat
Atas nama Tata Kota tontonan menjadi tuntunan

Air mata kaum jelata mengering
Darah pun enggan mengaliri tubuh
Namun kepongahan dan kecongkakan terus dipertontonkan
Sirkus mata kamera mengelu-elukannya bak Pahlawan

Para Komprador membuat silau Proletariat
Kaum Borjuis bersorak sorai mengelu-elukannya
Pesta rakyat digelar bagi sang penguasa
Namun kaum jelata hilang ingatan
Sosok penguasa atau pemimpin yang mereka butuhkan

Jakarta, 23 Oktober 2016